Rabu, 19 Januari 2011

[1] Prosesi Adat Batak – Marhori hori Dinding

[1] Marhori hori Dinding / Perkenalan

Venue: Rumah Keluarga Perempuan
Date: Minggu, 12 December 2010 (12.12.10)
Time: 14.00

Yayaya, mungkin sudah banyak yang tau, proses pertama menuju pernikahan adat batak adalah Marhori hori dinding…tapi ada satu step yang dilakukan terlebih dahulu, sebelum marhori hori dinding bisa dilangsungkan…


"Minggu, 05 December 2010, 8pm, @rumah Amangboru, Bekasi…
1 week before,"

Seminggu sebelum acara Marhori hori Dinding, pihak parboru dari pihak laki-laki mendatangi pihak parboru dari perempuan
(dimana dalam acara kami, diwakilkan oleh kakak perempuan dari calon ku yang datang kermh amangboruku)


Disana pihak parboru dari calon pengantin laki-laki, mengutarakan niat kepada amangboruku (tetapi disini hanya mengutarakan, bukan “MEMINTA” ya…)


Diacara ini, amangboru ku bertugas hanya untuk menampung informasi dari pihak laki-laki:
1. Utarakan Niat;
2. Didiskusikan kira-kira rencana acara dipihak mana;
3. Bulan acara akan dilangsungkan (estimasi);
4. Tempat dilaksanakannya Acara adat (estimasi);
5. Sinamot; dan
6. Penelusuran secara adat (mar-tarombo),
        Disini harus di cek, apakah ada marga-marga dari pihak laki-laki dan pihak
        perempuan, yang bisa membuat acara ini nantinya tidak bisa berjalan…
        Misalnya: ternyata calon pengantin laki-laki adalah Tulang (paman) dari pihak
        perempuan secara adat…; atau, ternyata marga pihak perempuan adalah namboru
        (tante) dari pengantin laki-laki…Hal-hal ini yang pertama harus disaring terlebih
        dahulu…untuk menghindari pertentangan secara adat di orang batak…


Jika semua sudah (terutama item no.6), maka amangboru akan wrap-up semua informasi dan menyatakan bahwa ia akan menginformasikan kepada orang tua perempuan mengenai info-info yang dia dapat, kurang lebih 6 item diatas… Jadi sifatnya hanya meneruskan informasi, bukan sebagai decision maker apakah niat tersebut diterima atau tidak…


Big thanks to God, Kakak, Abang, Amangboru dan Namboru untuk bisa terlaksananya acara ini.
Walaupun agak ada hambatan sedikit dikarenakan suami dari kakak yang tiba- tiba terkena sakit cacar, tapi Puji Tuhan, semua acara tahap pertama ini bisa terlaksana dengan baik…


“Tetap berpengharapan penuh, dan memahami bahwa setiap acara pasti ada halangan atau rintangan yang mungkin akan menghadang, tetapi dengan tetap berserah kepadaNya, segala sesuatunya hanya Dia yang mengatur…”


Yeayyyy,,,Married is getting closer…,
*hoping for the best…




"Minggu, 12 December 2010, 2pm, @my Home…
1 week after,"

Masuklah pada acara: Marhori hori Dinding
Yang artinya (setelah mencari2 di google.com): MERABA-RABA DINDING.
Jika dikaitkan dengan adat batak, seperti “merasakan…“ (merasakan apa ya?? Hehehe…),
ya intinya perkenalan untuk merasakan sambutan dari pihak keluarga pihak perempuan…


Pada acara ini, calon pengantin pria beserta keluarga (inti) datang kerumah keluarga perempuan…Acara ini biasanya dimulai dari pantun-pantun yang berisikan niatan dari keluarga laki-laki untuk meminta “boru” dari keluarga perempuan…


Dirumahku saat itu, ada orang tua ku, inang tua, ompung dan amangboru…walaupun tidak kandung, tapi, merekalah yang secara silsilah adalah yang paling dekat dengan keluarga kami di Jakarta ini.. (secara orang batak itu 7 turunan juga dibilang masih dekat! Hehehehe…)


Acaranya basically diawali dari orang tua pria yang mengutarakan niat dan disambut oleh ompungku…dan keputusan akhir tetap pada orang tua ku untuk menerima niat baik dari pihak laki-laki…setelah itu pembicaraan berlanjut ke hal-hal lain, seperti tempat, bulan dan tanggal, acara dipihak mana, dan termasuk juga Sinamot.


Ok, terhenti sebentar mengenai Sinamot, (menurut informasi dari banyak orang yang saya dapat selama ini), adalah nilai yang akan dibayar pihak laki-laki kepada pihak perempuan, dikarenakan anak perempuannya akan diambil oleh pihak laki-laki.


Tentang seluk beluk atau tentang berapa sebenarnya sinamot itu, aku pun tak tau secara detailnya..tapi yang pernah aku dengar dari pembicaraan bijaksana para orang tua yang sudah pernah menikahkan anak atau borunya, secara bijaksananya diinformasikan seperti ini:


1. IDEALLY: Jika acara di pihak perempuan, sinamot diharapkan sebesar nilai pestanya…
(it happened to my Dad, dulu tnyata dia beli si mama sebesar nilai pestanya bahkan sampai ke kebaya, songket, sendal, perhiasan, kebaya ompung, keluarga mama, semua yg provide si bapak…Intinya si mama dan keluarga bisa dibilang Cuma tinggal bawa diri aja…”Wowwwww….So proud of you Dad!”)
Secara bijaksananya diharapkan, jangan membuat pihak perempuan jadi rugi besar, dimana pihak laki-laki juga nantinya yang akan terima tumpak (uang dari para tamu pihak laki-laki)


2. WISELY: Jika acara di pihak perempuan, sinamot juga bisa tidak sebesar nilai pestanya (tujuannya agar sinamot itu tidak terlihat terlalu besar).  


Jadi disebutkan nominal yang proper (tidak terlalu kecil juga), tetapi dibelakang itu, biasanya keluarga pria pun dengan suka cita membantu keseluruhan biaya pesta. Jadi pada saat pesta, hanya disebutkan nilai sinamot seperti yang diumumkan pada saat marhusip. Yang nomer 2 ini lumayan bijaksana menurutku…


3. PROPERLY: Jika acara di pihak laki-laki, nilai sinamot itu at least bisa membiayai segala keperluan pihak perempuan termasuk keluarga, seperti, pakaian,  make up, sepatu/sendal, songket, perhiasan, dll…


4. WISELY: Jika acara di pihak perempuan, tetapi pihak laki-laki secara financially kurang, yang aku pernah dengar adalah: sebenarnya secara bijaksana bisa saja pihak perempuan akan menambahkan nilai sinamot tersebut (dibelakang), dengan tujuan agar nilai sinamot yang nanti diumumkan akan terlihat lebih proper…tapi hanya kedua orang tua dan calon pengantin saja yang tau…Ini terjadi pada temanku dan acaranya pun tetap berjalan lancar dikarenakan semua keputusan diambil secara bijaksana untuk kebaikan kedua belah pihak…

5. PROPERLY: Jika dari pihak laki-laki sudah ada borunya yang menikah sebelumnya, secara bijaksananya nilai sinamot minimal sebesar nilai borunya dulu dibeli...Dikarenakan, istilahnya dulu borunya dibeli minta harga segitu, sekarang mau beli boru orang kenapa nilainya dikecilkan...hmmm...ini sudah memakai pemikiran jaman sekarang sih menurutku...bisa dipertimbangkan juga...


ahhh,,terlepas dari segala informasi diatas itu, intinya di pihak manapun acaranya, bagaimanapun keadaan keuangan kedua belah pihak, seharusnya bisa dibicarakan dengan lebih bijaksana dan dicari jalan keluarnya seperti apa. Karena sepertinya, di orang batak, nilai SINAMOT itu seperti suatu “PRIDE” dari orang tua kedua belah pihak…






Jadi jangan karena sinamot, acara pun jadi mundur…
(*aku pun berharap penuh demikian…*)


Jika ada pengetahuanku ttg cara-cara sinamot diatas yang salah, please feel free untuk tidak meng-consider hal-hal tersebut dalam penentuan jumlah sinamot…… ;)


Okie..okiee,,,bisa kembali bernafas, setelah membahas mengenai salah satu hal crucial diatas (a.k.a. SINAMOT) kembali ke acara Marhori-hori dinding…
Acaranya setelah berbicara ttg hal-hal tanggal, tempat, pihak yang akan mengadakan acara, sinamot, dll, dilanjutkan dengan acara makan dan ramah tamah (ngobrol2 santai)…


Intinya, Puji Tuhan, acaranya berjalan lancar… *fiuhhh!!!


Big big thanks to God, kedua belah pihak orang tua , bapa uda, amangboru, ompung, inang tua dan juga mbaaaakkkkk (thanks a lot mbakkk, yang sudah membantu bagian menyiapkan makan siang)…Terima kasih Tuhan, acaranya run smoothly

Tidak ada komentar:

Posting Komentar